(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau
duduk atau dalam kedaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka". (QS. Al-Imran [3] : 191).
Pedoman ayat di ataslah sebenarnya yang mendorong kita untuk
selalu berpikir. Bukankah perubahan, perbaikan dan pengembangan diri selau
dimulai dari pikiran kita?
Anis Matta mengatakan "Kekuatan kepribadian kita akan
terbangun saat kita mulai memikirkan pikiran-pikiran kita sendiri, memikirkan
cara kita berpikir, memikirkan kemampuan berpikir kita, dan memikirkan
bagaimana seharusnya kita berpikir".
Menelaah dari ungkapan sarat makna di atas bahwa akar dari
semua tindakan, perilaku, kebiasaan dan karakter adalah pikiran kita. Dalam hal
inilah kita perlu mengevaluasi diri tentang tradisi berpikir kita.
Muhasabah : Puzle galau sarat makna
Coba kita renungkan bersama, pernahkah kita galau jika pada hari ini tak selembar pun Al-Qur’an kita baca? Pernahkah kita guling-guling sambil bilang WOW tatkala banyak maksiat yang telah kita perbuat? Bukankah Allah seringkali mengingatkan kita afala tatafakkarun ‘tidakkah memikrkannya?’
Muhasabah : Puzle galau sarat makna
Coba kita renungkan bersama, pernahkah kita galau jika pada hari ini tak selembar pun Al-Qur’an kita baca? Pernahkah kita guling-guling sambil bilang WOW tatkala banyak maksiat yang telah kita perbuat? Bukankah Allah seringkali mengingatkan kita afala tatafakkarun ‘tidakkah memikrkannya?’
Ketika kita terbiasa mengevaluasi jarak kedekatan kita
kepada zat Yang Maha Agung Allah SWT maka sejak itu pula kita telah melatih
diri kita agar berpikir (tafakur) untuk mensyurgakan peran. Alhasil
muhasabahlah yang mampu memediasi keterpurukan hati-hati kita tatkala kondisi
iman sedang kering kerontang.
Siang dan malam telah menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan
kita selama satu hari ini. Jika perbuatan itu bernilai ibadah maka akan semakin
mendekatkan kita kepada Allah. Tapi jika perbuatan itu bernilai keburukan maka
hanya kesia-siaanlah yang kita dapat.
Semoga tulisan ini bisa menjadi renungan di peraduan malam menuju hari esok yang penuh barokah. Serta menjadi bahan evaluasi terhadap amalan
yaumiah apa yang telah kita kerjakan pada hari ini.

