Senin, 11 Juni 2012

KAMMI : Gerakan Pelopor Proses Reformasi


 
"Berikan aku 1000 orang tua,niscaya akan kucabut semeru dari akarnya.Berikan aku 1 pemuda,niscaya akan kuguncangkan dunia".
(Bung Karno)

Menjadi pembahasan yang menarik jika kita tengok sejenak sejarah pemuda Indonesia yang gelora semangatnya begitu membara. KAMMI yang mendeklarasikan dirinya sebagai gerakan islam yang menjawab dinamika perpolitikan di era orde baru yang kelam masa itu. KAMMI sebagai entitas politik Islamis lahir di titik krisis Rezim Orde Baru. KAMMI merupakan kekuatan alternatif pergerakan mahasiswa muslim yang tergabung dalam jaringan FSLDK (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus) dari 63 Perguruan Tinggi Negri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia. FSLDK adalah unit kegiatan kemahasiswaan muslim yang fokus pada pembinaan dan kesholehan kader. Unit kegiatan ini berada dalam internal kampus. Para aktivis tadi menentang Rezim Orde Baru tang represif dalam doktrin pembinaan mereka. Namun demikian mereka belum mempunyai daya dobrak untuk meruntuhkan pemerintahan dictator yang telah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa.

Kongres kesepuluh di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tanggal 29 April 1998 menjadi saksi deklarasi lahirnya elemen aksi mahasiswa muslim yang beri nama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Elemen ini merupakan kendaraan politik yang ditunggangi langsung oleh para mahasiswa muslim yang tergabung dalam FSLDK. Pasca deklarasi, KAMMI langsung memobilisasi masa di seluruh Indonesia untuk siaga mengadakan unjuk rasa kepada Rezim Orde Baru yang sudah tak layak lagi dipertahankan. Fahri Hamzah, yang kala itu diamanahkan menjadi ketua umu segera melakukan road show politik bersama lokomotif ferormasi, Amien Rais ke pelbagai daerah turut serta mengerahkan masa yang beri’tikad untuk mengadakan reformasi. Sebagai sebuah maneuver, langkah awal KAMMI ini telah berhasil membuat aparat keamanan jadi kewalahan.

Tak berselang lama, aksi proter massif KAMMI tidak pelak mampu menggerakkan gerbong perlawanan yang selamai ini hanya menjadi aksi eksklusif dari sayap kiri dan sosialis. Momentum ini pun dimanfaatkan oleh Amien Rais untuk mengecam Rezim Orde Baru itu untuk melengserkan jabatannya dengan mengerahkan aksi sejuta masa di Monas menjelang 29 Mei 1998. Aksi ini sengaja dilakukan sebagai bentuk puncak perlawanan rakyat yang telah lama ditindas oleh pemimpinnya. Para aktivis Islam yang kala itu menjadi basis masa perlawanan akbar ini telah mantap menyatakan kesiapan dan kesediannya. Pemerintah dan seluruh jajarannya dibuat kebakaran jenggot. Seluruh aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga tempat dilaksanakannya aksi masif itu. Karena alasan kemanan yang tidak memungkinkan, oleh Amien Rais aksi tersebut terpaksa dibatalkan. Meski demikian KAMMI tetap memboyong massanya untuk mengepung senayan. Para pengamat menilai, jika aksi itu tetap digelar maka ini merupakan aksi berdarah pasca pemberontakan komunis 1965. Namun, pemerintah nampaknya telah kehilangan kharisma politik. Hal ini dibuktikan dengan pembelotan yang dilakukan oleh kubu Wiranto dan Prabowo. Mereka yang selama ini loyal terhadap pemerintah menyatakan diri untuk tidak berkoalisi, sementara Golkar berbalik arah mentut Soeharto meletakkan jabatannya. Tepat 29 Mei 1998 jam 09.00 WIB, Soeharto secara resmi menyatakan untuk mundur dari jabatannya. Dengan demikian berakhirlah Rezim Orde Baru yang telah berkuasa selam 32 tahun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar